16 AUGUST 2016, 17:16
Verse
Mataku tertutup tangan sendiri
Tak mampu menatap keindahan dunia ini
Air mata, banyak menyesali
Senda gurau, terikat dengan janji
Ironi, jabat tangan itu perpisahan
Kakiku menyusuri kasarnya aspal jalanan
Lupa pada siapa yang menggerakan
Jika bukan karena Tuhan mustahil aku berjalan
Kupingku terhasut fitnah terserah asal punya nama
Siapa yang berilmu, sebenernya apa yang kau punya?
Tangan terampil, mengambil barang semaunya
Kembalikan pada yang mempunyai Hak, jangan renggut seenaknya.
Menyambar bagai petir saat gosip datang dari buah bibir diskusi
Alunan aib orang lain yang saat ini kau selami
Musibah dibuat-buat agar terasa tajam bahkan berduri
Dan seandainya begini oh seandainya begitu, yang mana yang benar, kok malah ambigu?
Hook
Selepas harum kasturi ruang tetap semerbak
Selepas hidup ini akankah kita terjebak?
Verse II
Rutinitas jadi saksi penentu kebiasaan Maksiat tetap jalan, ibadah pun tetap dilaksanakan
Apa yang kau lakukan?
Malam kafir dan pagi beriman
Dan teman seolah memakai topeng seribu wajah
Kemarin berduka dan sekarang menertawakan
Kebersamaan ini terasa janggal
"Si anu kurang baik, kurang solid, diamah tukang bual!"
Sikap respect sebentar kau alami, tapi jika dibelakang kau buang senyuman yang tercuri
Apalagi yang harus kumengerti?
Saat angkara murka terlalu banyak memegang kendali?
Dan Tuan rumah melayani dengan profesionalitas
Nyatakan keahlian agar ia bergerak sepintas
Tapi sadarkah kau apa yang lebih pantas kau itu tamu, jangan kau minta lebih Dikasih ini dikasih itu ya mustinya banyak banyak terima kasih.
Hook
Selepas harum kasturi ruang tetap semerbak
Selepas hidup ini akankah kita terjebak
0 Komentar: